Ku nanti miliaran partikel air itu turun menyapa bumi
kala langit mendung dan udara yang mulai dingin
aku bukan rindu basahnya,
bukan pula suka dengan suhu
dinginnya
tapi aku rindu kedatangannya
bersama miliyaran air yang
turun itu
karena bersama itu aku dapat menyapamu dalam doaku
Kamu, orang yang menjungkir balikan duniaku.
membuat gelombang tenang dalam lautan menjadi penuh gejolak
membuatku terus mencari dimana kamu
dimana pula
tempat yang terakhir kamu datangi
membuatku betah berlama-lama menatap layar handphone
dengan berbagai media sosial yang bisa ditelusuri untuk
mencari keberadaanmu
Aku tahu ini sebuah resiko menyukaimu dalam diamku,
tapi aku bingung harus bagaimana?
rasanya terus membuncah
dan aku tak lagi dapat
membendungnya.
aku bingung bagaimana memulai menyapamu,
bagaimana
mengajakmu bertemu
atau sebatas menanyakan kabarmu
lalu rasa frustasi itu datang, atas kebingunganku.
Maka yang bisa kulakukan adalah menyapamu dalam doa.
jika, takdir itu berada di kamu Tuhan menyampaikan sapaanku
jika bukan, mungkin sapaan-sapaan itu hanya tersimpan
mungkin dalam
kotak yang isinya telah penuh dengan namamu
ahhh aku seperti pemuja yang frustasi bukan?
kamu yang di sana entah dimana keberadaannya,
pernahkah kamu
dengar sapaan dariku?
satu malam di saat hujan turun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar