Selasa, 08 Desember 2015

Aku yang Di sini Masih Menunggu

Ku nanti miliaran partikel air itu turun menyapa bumi
kala langit mendung dan udara yang mulai dingin
aku bukan rindu basahnya, 
bukan pula suka dengan suhu dinginnya
tapi aku rindu kedatangannya 
bersama miliyaran air yang turun itu
karena bersama itu aku dapat menyapamu dalam doaku

Kamu, orang yang menjungkir balikan duniaku.
membuat gelombang tenang dalam lautan menjadi penuh gejolak
membuatku terus mencari dimana kamu
dimana pula tempat yang terakhir kamu datangi
membuatku betah berlama-lama menatap layar handphone
dengan berbagai media sosial yang bisa ditelusuri untuk mencari keberadaanmu

Aku tahu ini sebuah resiko menyukaimu dalam diamku,
tapi aku bingung harus bagaimana?
rasanya terus membuncah 
dan aku tak lagi dapat membendungnya.
aku bingung bagaimana memulai menyapamu, 
bagaimana mengajakmu bertemu
atau sebatas menanyakan kabarmu
lalu rasa frustasi itu datang, atas kebingunganku.
 
Maka yang bisa kulakukan adalah menyapamu dalam doa.
jika, takdir itu berada di kamu Tuhan menyampaikan sapaanku
jika bukan, mungkin sapaan-sapaan itu hanya tersimpan 
mungkin dalam kotak yang isinya telah penuh dengan namamu
ahhh aku seperti pemuja yang frustasi bukan?
kamu yang di sana entah dimana keberadaannya, 
pernahkah kamu dengar sapaan dariku?


satu malam di saat hujan turun


Tidak ada komentar:

Posting Komentar