Hemm… Dari mana aku memulai cerita ini, cerita tentang dia yang setahun lalu ku temui dengan tidak sengaja, seolah Tuhan sengaja membawanya bertemu denganku. Saat itu hari Selasa tepat pukul 4 sore aku bertemu dengannya, di sebuah sudut kota Jakarta dan rintik hujan yang membasahi.
Awalnya aku sama sekali tidak tertarik untuk ikut serta bertemu dengan sosoknya,karena saat itu aku sudah ada agenda dengan teman lainnya. Tapi entah kenapa satu temanku ini begitu memaksa untuk menemaninya bertemu dengan sosok yang sedang kuceritakan saat ini. Bahkan dia bilang ingin menjemputku di mana pun posisiku saat itu, akhirnya aku mengalah dan mau untuk diajaknya bertemu dengan orang yang akan kuceritakan ini.
Namanya, maaf tidak bisa kusebutkan untuk kenyamannya maka pangil saja dia ARUNA, nanti kujelaskan kenapa aku memanggilnya begitu. Kali pertama bertemu dengannya tidak ada yang istimewa karena aku beranggapan dia aneh. Aku merasa seperti kasat mata di hadapannya, dia mengacuhkanku, karena sebal aku aku menantangnya ku lihat tepat di manik matanya saat ia sedang bercerita. Entah berapa lama itu terjadi yang jelas lebih dari satu jam aku menatapnya tanpa berpaling, padahal biasanya akulah yang paling enggan untuk menatap lawan bicaraku.
Beberapa waktu terlewat langit sore yang dipenuhi rintik hujan ini telah berganti malam dan usahaku agar tak terlihat kasat mata berhasil. Dia sekarang menatapku terus ketika berbicara seolah berganti menganggap temanku itu yang invisible. Hei Aruna! lihat bahkan aku peka terhadap perubahanmu.
Sayangnya ternyata aku lengah Aruna, tatapan matamu yang lurus pada mataku itulah senjatamu. Aku mengakui aku suka pandanganmu kala dirimu bercerita antusiasmu sampai ke matamu, lalu matamu itu akan menyampaikan nya ke mataku. Aku jatuh seketika karena dirimu, Aruna apa kamu sadar yang telah kamu lakukan? Kamu membuatku terjatuh. Saat itu aku belum menyadari keterjatuhanku ini dalam konteks yang bagus atau sebaliknya. Malam itu di tutup dengan sebuah jabat tangan dengan mata yang saling menatap dan senyum kecil tanda sopan santun dari kita berdua.
Dalam perjalanan pulang aku tertawa di sebuah taksi yang membawaku dan temanku kembali ke daerah timur Jakarta. “Dia lucu!” Ucapku pada temanku itu. Matanya aku suka matanya meskipun aku merasa aneh dengan bentuk alisnya yang sedikit menukik menandakan dia orang yang mungkin keras kepala. Aku sendiri tidak begitu mengetahui pribadinya. Ya jelas ini pertemuan pertama, lalu kubilang sesuatu pada temanku yang membuat diriku sendiri kaget. Ada pertemuan keduakah? Temanku tersenyum penuh arti dia tahu aku tertarik dengan Aruna. Tunggu saja nanti, mungkin ada waktunya lagi.
Lalu pertemuan kedua itu pun terjadi aku punya kesempatan melihat sosoknya lagi dan mengenalnya lagi. Aruna, aku panggil dia begitu ketika kulihat dia di waktu fajar pagi hari di sisa-sisa tebaran bintang di langit dan matahari yang mulai menyingsing. Sayangnya tidak pernah lagi kutemui sosoknya sebagai sang Aruna.
Perjalanan mengenal Aruna berhenti satu bulan setelahnya di pertemuan terakhir dengannya. Aruna, dia yang membuat ku terjatuh dalam arti yang indah meskipun jatuh tetaplah jatuh dan terasa sakitnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar