Jumat, 02 Oktober 2015

Hujan di Bulan September

Langitnya masih biru cerah, awan putih masih mengiringinya
Matahari masih bersinar, meski panasnya kian menyengat
Tanahnya kering retak, dan daun-daun nyaris kehilangan hijaunya..

Tapi dedaunan gugur yang tertiup angin kering kemarau mengubah suasana panas ini kian syahdu
Perpaduan dari berbagai warna cokelat yang indah, dari daun gugur, tanah kering, kucup pohon-pohon yang mati dan rumput yang menguning.

September nyaris saja berlalu, kemarau pun belum ingin berganti
Hujan tak mungkin datang karena Oktober belum tiba menggantikannya.
Tapi ternyata hujan itu datang di suatu malam September yang sepi.
dengan langit hitam kemerahan karena mendung membayangi sebagai pertanda kehadirannya

Butiran air itu jatuh membentur bumi,
Singkat tapi deras dan sebentar tapi membasahi tanah-tanah yang retak.
Petrichor menguar ke udara, memberi penghiburan kala malam sepi ini.
Suara-suara malam yang biasanya muncul, enggan menampakan diri malam ini.
Biar saja, biar malam ini terasa syahdu dengan nyanyiannya yang singkat
Nyanyian dengan penuh nada elegi.

Mungkin hujannya hanya iri pada si matahari yang selalu dinantikan kehadirannya.
meski sinarnya terlampau terang, hangatnya terlalu terik, dan panasnya memberi peluh.
Tapi, ia si hujan selalu dianggap kelabu, penuh kesedihan dan kepahitan untuk mereka yang terluka dan kesepian.
Padahal ia datang ingin menawarkan harapan, mengubah sekeliling jadi berwarna tak hanya tampak dengan cokelat.
Daun-daun tak lagi meranggas, bunga-bunga mekar dengan warna indahnya dan rumput-rumput kembali menghijau.

Maka ia turun di suatu malam September, membujuk langit untuk menemani dan menerima kehadirannya.
Lalu, ia tumpahkan dalam butiran air bersama harapan mereka yang memandang kehadirannya.


28 September 2015, 
Suatu malam ketika hujan turun di bulan September 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar