Rabu, 17 Juni 2015

Hai Lagi !

Hai! nyatanya aku berbohong untuk tidak lagi bercerita banyak tentangmu. Maaf rasanya benar-benar mengganggu. padahal baru saja kemarin aku yakin bahwa kisahku untukmu selesai. Biar Dia yang merajutnya untukku nanti. Yaa, lagi-lagi hanya sebatas baris kalimat yang kuucap kenyataannya tidak pernah semudah itu.


Kemarin di sela keyakinanku untuk mengakhiri cerita tentangmu, malah dengan sengaja aku kembali menemuimu. Ya, mungkin setan-setan penggoda begitu banyak yang mempengaruhiku dan mereka  menyamar atas rasa bernama rindu. Ahh aku malu bercerita ini karena pada nyatanya aku begitu lemah melawan daya magnet itu.

Mungkin lama-lama yang muncul bukan sekedar kagum, karena jika hanya kagum mengapa ada rasa yang tidak nyaman seperti ini? Jangan tanya aku apa artinya karena aku sendiri bingung mengartikannya. Lalu bolehkah aku bertanya padamu apa artinya? Berasa aneh karena aku di sini sibuk bertanya sedangkan kamu tidak mungkin menjawab.

Hai kamu! izinkan kali ini aku mengulang sapaanku yang mungkin masih tidak tersampaikan dengan baik, karena sikapku yang kaku. Aku mulai berangan ingin kembali mengulang perjalanan menyapa langit dengan kamu yang tidak hanya bisa kunikmati sendiri dalam diam. Bisakah? Baiklah rasanya percuma karena kalau aku hanya bertanya padamu melalui lembar putih ini tidak mungkin ada jawaban yang ku dapat.

Aku bingung kemana lagi aku harus menemukan tempat ternyaman lagi agar kamu tidak mengusik terlalu banyak. Sejujurnya aku mungkin terlalu bodoh untuk membaca sebuah tanda yang bermakna. Kamu ini ingin kemana, haruskah aku kejar atau harusnya kubiarkan saja? Lalu aku tanya pada banyak orang tapi ternyata banyak jawaban yang berbeda yang kuterima, Lagi-lagi aku bingung harus percaya pada siapa.

Lalu aku bertanya lagi pada Dia tapi rasanya terlalu lama menunggu juga tidak mengenakkan. Aku menunggu untuk jawaban pasti, ketika pikiranku bekerja lebih baik berhenti menyapamu, malah ternyata tidak semudah yang kuperkirakan. Kamu ini sebenarnya siapa? kenapa selalu suka mengusik ketenanganku?

Kamu diam tapi malah lebih banyak membuat lautan gelombang pada diriku. Berkali-kali aku mencoba untuk mengintip duniamu tapi terlalu sulit karena dipagar terlalu rapat dan tinggi. Rasanya ingin mengumpat kalau kamu terlalu sombong, tapi aku tahu itu tidak benar. Bahkan mungkin itu hanya penyaluran rasa frustasiku padamu.

Mungkin sebut saja ini rasa penasaran dengan sikapmu yang berbeda dan ditujukan untukku itu. Bisa juga aku yang terlalu melambungkan hati terlalu tinggi, bisa saja itu perilaku sopan santun, bukan karena istimewa. Aku harap kamu ada niat untuk berusaha menjawabnya nanti. Atau mungkin aku yang harus lebih peka membaca tanda? Baiklah aku akan berusaha untuk itu.

Hai kamu! ini sapaanku yang kesekian kalinya untukmu yang mungkin tidak pernah kamu terima, karena aku terlalu takut menyampaikan langsung. Aku ingin sekali bilang “Ayo kita berteman baik! Aku sudah mampu mengatasi rasa yang tidak nyaman ini.” Tapi kata-kata itu hanya sampai pangkal tenggorokan karena tidak sanggup terucap. Aku akan berusaha lebih lagi untuk menyingkirkan ketidak nyamanan ini dan ketika mampu, mari kita berteman.

Akhir dari sapaanku, akan tetap sama dengan kemarin. Aku tidak berharap untuk lebih, sepertinya cukup begini saja. Hanya saja aku berharap untuk berhenti merasa terusik dengan keberadaanmu itu. Aku hanya ingin kembali pda ruang tenang dimana kemarin aku tinggal, karena lautan gelombang yang terjadi padaku akhir-akhir sangat membuat mabuk dan membuat kepala menjadi sakit. Rasanya belum mampu untuk menahan gejolak mual itu setiap hari dengan menunggu ketidak pastian. Akan lebih baik jika aku kembali pada ruang tenang tempat aku tinggal sebelum bertemu denganmu dan menimbulkan kekacauan yang lebih banyak lagi. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar