Hai!
nyatanya aku berbohong untuk tidak lagi bercerita banyak tentangmu. Maaf
rasanya benar-benar mengganggu. padahal baru saja kemarin aku yakin bahwa kisahku
untukmu selesai. Biar Dia yang merajutnya untukku nanti. Yaa, lagi-lagi hanya
sebatas baris kalimat yang kuucap kenyataannya tidak pernah semudah itu.
Kemarin
di sela keyakinanku untuk mengakhiri cerita tentangmu, malah dengan sengaja aku
kembali menemuimu. Ya, mungkin setan-setan penggoda begitu banyak yang mempengaruhiku
dan mereka menyamar atas rasa bernama
rindu. Ahh aku malu bercerita ini karena pada nyatanya aku begitu lemah melawan
daya magnet itu.
Mungkin
lama-lama yang muncul bukan sekedar kagum, karena jika hanya kagum mengapa ada
rasa yang tidak nyaman seperti ini? Jangan tanya aku apa artinya karena aku
sendiri bingung mengartikannya. Lalu bolehkah aku bertanya padamu apa artinya?
Berasa aneh karena aku di sini sibuk bertanya sedangkan kamu tidak mungkin
menjawab.
Hai
kamu! izinkan kali ini aku mengulang sapaanku yang mungkin masih tidak
tersampaikan dengan baik, karena sikapku yang kaku. Aku mulai berangan ingin
kembali mengulang perjalanan menyapa langit dengan kamu yang tidak hanya bisa
kunikmati sendiri dalam diam. Bisakah? Baiklah rasanya percuma karena kalau aku
hanya bertanya padamu melalui lembar putih ini tidak mungkin ada jawaban yang
ku dapat.
Aku
bingung kemana lagi aku harus menemukan tempat ternyaman lagi agar kamu tidak mengusik
terlalu banyak. Sejujurnya aku mungkin terlalu bodoh untuk membaca sebuah tanda
yang bermakna. Kamu ini ingin kemana, haruskah aku kejar atau harusnya
kubiarkan saja? Lalu aku tanya pada banyak orang tapi ternyata banyak jawaban
yang berbeda yang kuterima, Lagi-lagi aku bingung harus percaya pada siapa.
Lalu
aku bertanya lagi pada Dia tapi rasanya terlalu lama menunggu juga tidak
mengenakkan. Aku menunggu untuk jawaban pasti, ketika pikiranku bekerja lebih
baik berhenti menyapamu, malah ternyata tidak semudah yang kuperkirakan. Kamu
ini sebenarnya siapa? kenapa selalu suka mengusik ketenanganku?
Kamu
diam tapi malah lebih banyak membuat lautan gelombang pada diriku. Berkali-kali
aku mencoba untuk mengintip duniamu tapi terlalu sulit karena dipagar terlalu
rapat dan tinggi. Rasanya ingin mengumpat kalau kamu terlalu sombong, tapi aku
tahu itu tidak benar. Bahkan mungkin itu hanya penyaluran rasa frustasiku
padamu.
Mungkin
sebut saja ini rasa penasaran dengan sikapmu yang berbeda dan ditujukan untukku
itu. Bisa juga aku yang terlalu melambungkan hati terlalu tinggi, bisa saja itu
perilaku sopan santun, bukan karena istimewa. Aku harap kamu ada niat untuk
berusaha menjawabnya nanti. Atau mungkin aku yang harus lebih peka membaca
tanda? Baiklah aku akan berusaha untuk itu.
Hai
kamu! ini sapaanku yang kesekian kalinya untukmu yang mungkin tidak pernah kamu
terima, karena aku terlalu takut menyampaikan langsung. Aku ingin sekali bilang
“Ayo kita berteman baik! Aku sudah mampu mengatasi rasa yang tidak nyaman ini.”
Tapi kata-kata itu hanya sampai pangkal tenggorokan karena tidak sanggup
terucap. Aku akan berusaha lebih lagi untuk menyingkirkan ketidak nyamanan ini
dan ketika mampu, mari kita berteman.
Akhir
dari sapaanku, akan tetap sama dengan kemarin. Aku tidak berharap untuk lebih,
sepertinya cukup begini saja. Hanya saja aku berharap untuk berhenti merasa
terusik dengan keberadaanmu itu. Aku hanya ingin kembali pda ruang tenang
dimana kemarin aku tinggal, karena lautan gelombang yang terjadi padaku
akhir-akhir sangat membuat mabuk dan membuat kepala menjadi sakit. Rasanya
belum mampu untuk menahan gejolak mual itu setiap hari dengan menunggu ketidak
pastian. Akan lebih baik jika aku kembali pada ruang tenang tempat aku tinggal
sebelum bertemu denganmu dan menimbulkan kekacauan yang lebih banyak lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar