Kamis, 30 April 2015

Hai!

Hai! izinkan aku menyapa karena mungkin ketika aku lelah menyapa tidak akan ada lagi sapaan yang kamu terima dan tidak ada aku lagi yang menanggapi ceritamu tentang apa saja. Mungkin aku tetap melihat tapi tidak untuk menanggapi. Hei kamu! Coba sekali ini dengar dan tengok aku! Aku akan bercerita tentang kamu dari awal sampai aku menutupnya. Ini bukan perintah tapi sebuah permintaan yang mungkin hanya sedikit lebih tegas, khas aku bukan?



Kamu tahu aku sempat kacau, sibuk berpikir dan menerka kenapa, ada apa dan harus bagaimana? Gundah mungkin jika didefinisikan dengan kata yang baik. Aku menunggu tapi nyatanya terlalu datar dan tidak ada sapaan apapun yang masuk dalam pemberitahuan di ponselku, bahkan aku menanyakan pertanyaan bodoh ini ponselku yang tidak pintar menerima pemberitahuan darimu atau kamu yang tidak pintar untuk sekedar menyapa? Baiklah aku menyerah, kali ini aku berusaha untuk memulai lebih dulu, menyingkirkan sebagian kecil ego yang kumiliki. Memulai dengan mengingatkan sesuatu agar kamu kapan-kapan bisa mengambilnya lagi. Hei! aku tersenyum saat itu rasanya ini sedikit melegakan ternyata kamu tidak mengacuhkanku.

Hari berlalu dan ternyata hanya sebatas itu, kali ini aku masih tersenyum tapi mungkin dengan makna yang mulai berbeda dari hari ketika kita berbincang singkat. Kamu masih muncul begitu pun aku dalam ruang yang sama namun selalu memilih waktu yang berbeda. Entah disengaja atau tidak aku pun tidak pernah tahu dan mencoba untuk tidak lebih lanjut mencari tahu. Sesekali aku masih mencoba menyapa, tapi ternyata hanya sampai dilihat tanpa respon. Lalu aku bertanya dengan diriku sendiri, kenapa? dan hanya jawaban praduga tanpa dasar yang singgah.

Aku beralih karena merasa butuh ruang yang lebih lapang untuk mengatasi rasa aneh ini. Saat itu aku memutuskan untuk berlari pada ruang terbuka yang cukup tinggi agar aku bisa mengurai rasa tidak nyaman dan menghirup udara lebih banyak. Langkah kakiku membawaku pada sebuah pencapaian lain sejak aku melihatmu waktu itu. Aku mampu meski lelah, meski sakit dan beberapa kali berpikir untuk menyerah. Saat aku kembali pada tempatku lagi ternyata masih ada rasa yang bernama resah. Aku bertanya kemana lagi aku harus singgah dan bercerita tentangmu?

Saat aku terdiam dan menonton layar imajinasi dalam kepalaku, tiba-tiba ada satu pikiran singgah, dan baru sadar ini bernama rindu. Bukan untuk kamu, sekali lagi kutegaskan bukan untukmu! Aku rindu pada sesuatu yang tak pernah kulihat tapi Dia selalu ada. Aku memutuskan untuk kembali pada Dia dan bercerita banyak hal. Untuk waktu yang sudah lama terlewat kali ini aku menangis, padahal kemarin-kemarin aku lupa bagaimana rasanya menangis.

Jangan geer, bukan menangisimu meskipun tidak di pungkiri kamu menjadi alasan kecil aku menangis dan mengadu padanya. Melalui kamulah aku kembali memeluknya, aku merasakan begitu besarnya rindu ini meluap untuknya, bukan untuk kamu ingat itu! Lalu kutemukan bagian diriku yang gelisah itu teredam dan tenggelam, yang resah pun tergantikan. Aku tenang, lihat Dia hebatkan dibanding kamu. Tapi aku tetap berterima kasih jauh dari lubuk hati, karena kamu aku kembali  mengandalkannya.

Aku sudah banyak bercerita tentang kamu yang sempat menggelitik dan menimbulkan rasa geli di satu sudut bagian bernama hati. Sekarang kubiarkan Dia saja yang memilikinya, walaupun aku sendiri belum benar yakin memberikan ini seutuhnya untuk Dia dan tidak lagi tergoda olehmu, hahahaha. Mungkin sampai saatnya tiba nanti Dia mau membagi rasa sayang itu entah untuk kamu atau orang lain. Aku pun tidak tahu, lagi pula aku sudah enggan menyapamu. 

Biarkan saja ya sesekali aku menyapa lewat langit, kalau sapaanku sampai biarkan cukup kamu yang menerimanya entah untuk disimpan atau diacuhkan. Aku tidak akan mencari tahu dan sebaiknya pun kamu tidak menyebar luaskannya. Semoga aku mampu tetap diam dan tidak sibuk mencari tahu.

Hei kamu! ini akhir dari beberapa paragraf sapaanku untukmu. Entah kamu melihatnya atau malah sedang menatap indahnya dunia. Aku hanya ingin bilang aku sudah berhenti menatapmu, karena sekarang aku memilihnya. Aku percaya pada isi kitab kehidupan yang berisi pula tentang hidupku, denganmu atau tidak biar nanti akan tiba saatnya waktu menjawab. Yang jelas ini akhir yang aku buat untuk cerita tentang dirimu.


2 komentar:

  1. Seperti: di hadapanmu aku diam, tak peduli dan enggan berurusan dengan apapun tentangmu . Namun di hadapan Dia, aku terang-terangan menggempaskan rasa yg membuat lambungku seperti digoyah saat mengarungi lautan berombak besar, mungkinkah rasa ini adalah awal dari sebuah "cinta dalam diam"?

    BalasHapus
    Balasan
    1. nyatanya memang tak semudah tulisan ini, limbung lalu jatuh lagi pun terjadi. Entah apa namanya mungkin iya atau mungkin tidak dengan jatuh cinta dalam diam.

      Hapus