Kamis, 30 April 2015

Aku pilih Abu-abu

T

adinya aku suka HITAM tapi ternyata terlalu gelap dan pekat. Aku tidak bisa melihat apa-apa terlalu bosan dan lelah meraba. Hitam juga selalu identik dengan kesedihan. Aku tidak mau menganiaya hidupku dengan warna hitam yang selalu pekat, gelap dan pahit.  



Aku beralih menyukai PUTIH mencoba menyongsong cahaya tapi ternyata terlalu silau mataku tak mampu melihat sinarnya. Terlalu bersih dan aku tidak berani mengotorinya dengan angan dan mimpi dalam kepalaku. Aku bingung mulai darimana melangkah agar tidak mengotorinya. Aku ingin mencoba banyak hal, berbuat banyak hal dan mencari tahu banyak hal dan itu semua tidak dapat aku lakukan saat aku tetap bertahan menyukai putih. Lalu ku putuskan untuk meninggalkan putih.

Aku pun beralih dengan warna PINK khas perempuan, tapi ternyata ini sama sekali bukan aku. Rasanya tak mampu harus benar-benar bersikap lemah lembut, tunduk tanpa menentang. Aku menolak untuk menjadi penerima dan luluh oleh bunga-bunga indah yang hanya bersemi dalam khayalan saja. Aku selalu melawan banyak hal, kadang malah terlalu kritis untuk jadi perempuan dan bahkan membuat lawan bicaraku mengernyitkan dahi melihatku terlalu banyak menentang.

Lalu aku singgah pada BIRU yang katanya lambang kedamaian dan ketenangan. Rasanya aku mulai cocok dengan warna ini. Lalu aku terlarut dalam ketenangan tanpa melihat sekitar dan sibuk untuk diriku saja. Tapi terlalu tenang ternyata membuatku semakin jauh dari rasa-rasa lain bahkan cendrung acuh. Ahh rasanya ada yang memaksaku keluar dari ketenangan ini, adrenalinku menolak perintah untuk berhenti mengacau. Akhirnya aku pergi lagi meninggalkan warna ini mencari persinggahan lain. 

Setelahnya, aku pilih MERAH karena katanya lambang keberanian dan semangat tinggi. Aku mulai menyukainya mengingat aku butuh semangat dan keberanian yang lebih besar untuk hidupku setelah terlalu larut dalam ketenangan. Namun rasanya  tetap tidak cocok dengan warnaku. Aku berani hanya sebatas kata dan pikiran, aku berani hanya sebatas dunia imaji yang kumiliki. Nyatanya aku tetap terdiam di satu pojok sudut lain dan sibuk mengamati dalam diam tanpa menggerakan langkah.

Lalu tiba saat aku pilih ABU-ABU dan rasanya aku mulai menyukai ini dalam arti yang lain tentunya. Tunggu biar aku jelaskan kenapa aku pilih untuk menyukainya,  karena abu-abu campuran hitam dan putih melambangkan ketidak pastian. Seperti aku yang tidak pernah pasti. Kadang mengharap pada A lalu beralih ke B. Kadang ingin ini tapi malah jadi itu, bahkan ketika berdoa ingin sesuatu tapi Tuhan memberikan jawaban di luar keinginanku. Aku pilih abu-abu mungkin sampai aku menemukan warna lain yang lebih cocok, ahh tapi rasanya warna ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Hidupku tak pernah pasti, karena aku sendiri tidak pernah tau kemana arahnya berjalan lurus atau malah berbelok ke kiri atau kanan. Cuma Tuhan yang selalu tahu dengan pasti bukan aku. Lagi pula abu-abu tidak selalu gelap dan pekat seperti hitam yang penuh kesedihan dan terlalu terang seperti putih tanpa coretan tanpa kesalahan dan tanpa jatuh untuk berdiri lebih tegak. Abu-abu bukan simbol keraguan untukku tapi simbol ketidakpastian akan rencana dan hidup.


Dan kemana warna-warna lain seperti PINK, BIRU dan MERAH itu? Mereka tetap ada sebagai penghias sebagai pelengkap dan hanya singgah sementara ketika aku bosan menjadi abu-abu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar