T
|
adinya
aku suka HITAM tapi ternyata terlalu gelap dan pekat. Aku tidak bisa melihat
apa-apa terlalu bosan dan lelah meraba. Hitam juga selalu identik dengan
kesedihan. Aku tidak mau menganiaya hidupku dengan warna hitam yang selalu
pekat, gelap dan pahit.
Aku
beralih menyukai PUTIH mencoba menyongsong cahaya tapi ternyata terlalu silau
mataku tak mampu melihat sinarnya. Terlalu bersih dan aku tidak berani
mengotorinya dengan angan dan mimpi dalam kepalaku. Aku bingung mulai darimana
melangkah agar tidak mengotorinya. Aku ingin mencoba banyak hal, berbuat banyak
hal dan mencari tahu banyak hal dan itu semua tidak dapat aku lakukan saat aku
tetap bertahan menyukai putih. Lalu ku putuskan untuk meninggalkan putih.
Aku
pun beralih dengan warna PINK khas perempuan, tapi ternyata ini sama sekali
bukan aku. Rasanya tak mampu harus benar-benar bersikap lemah lembut, tunduk
tanpa menentang. Aku menolak untuk menjadi penerima dan luluh oleh bunga-bunga
indah yang hanya bersemi dalam khayalan saja. Aku selalu melawan banyak hal,
kadang malah terlalu kritis untuk jadi perempuan dan bahkan membuat lawan
bicaraku mengernyitkan dahi melihatku terlalu banyak menentang.
Lalu
aku singgah pada BIRU yang katanya lambang kedamaian dan ketenangan. Rasanya
aku mulai cocok dengan warna ini. Lalu aku terlarut dalam ketenangan tanpa
melihat sekitar dan sibuk untuk diriku saja. Tapi terlalu tenang ternyata
membuatku semakin jauh dari rasa-rasa lain bahkan cendrung acuh. Ahh rasanya
ada yang memaksaku keluar dari ketenangan ini, adrenalinku menolak perintah untuk
berhenti mengacau. Akhirnya aku pergi lagi meninggalkan warna ini mencari
persinggahan lain.
Setelahnya,
aku pilih MERAH karena katanya lambang keberanian dan semangat tinggi. Aku
mulai menyukainya mengingat aku butuh semangat dan keberanian yang lebih besar
untuk hidupku setelah terlalu larut dalam ketenangan. Namun rasanya tetap tidak cocok dengan warnaku. Aku berani
hanya sebatas kata dan pikiran, aku berani hanya sebatas dunia imaji yang
kumiliki. Nyatanya aku tetap terdiam di satu pojok sudut lain dan sibuk
mengamati dalam diam tanpa menggerakan langkah.
Lalu
tiba saat aku pilih ABU-ABU dan rasanya aku mulai menyukai ini dalam arti yang
lain tentunya. Tunggu biar aku jelaskan kenapa aku pilih untuk menyukainya, karena abu-abu campuran hitam dan putih
melambangkan ketidak pastian. Seperti aku yang tidak pernah pasti. Kadang
mengharap pada A lalu beralih ke B. Kadang ingin ini tapi malah jadi itu,
bahkan ketika berdoa ingin sesuatu tapi Tuhan memberikan jawaban di luar
keinginanku. Aku pilih abu-abu mungkin sampai aku menemukan warna lain yang
lebih cocok, ahh tapi rasanya warna ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Hidupku
tak pernah pasti, karena aku sendiri tidak pernah tau kemana arahnya berjalan
lurus atau malah berbelok ke kiri atau kanan. Cuma Tuhan yang selalu tahu
dengan pasti bukan aku. Lagi pula abu-abu tidak selalu gelap dan pekat seperti
hitam yang penuh kesedihan dan terlalu terang seperti putih tanpa coretan tanpa
kesalahan dan tanpa jatuh untuk berdiri lebih tegak. Abu-abu bukan simbol
keraguan untukku tapi simbol ketidakpastian akan rencana dan hidup.
Dan
kemana warna-warna lain seperti PINK, BIRU dan MERAH itu? Mereka tetap ada
sebagai penghias sebagai pelengkap dan hanya singgah sementara ketika aku bosan
menjadi abu-abu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar