Rabu, 20 September 2017

Fenomena Sale Department Store : Konstruksi Sosial Gaya Hidup Masyarakat Indonesia

Fenomena Sale Department Store : Konstruksi Sosial Gaya Hidup Masyarakat Indonesia

Oleh:
Nurul Anisa

Pendahuluan
            Saat ini kehidupan masyarakat semakin berkembang dan kompleks, terlebih lagi dalam kehidupan perkotaan. Kebutuhan dan gaya hidup masyarakat yang semakin banyak dan beragam menjadi tuntutan untuk dipenuhi setiap orang. Gaya hidup yang kian berkembang terutama bagi masyarakat ibu kota di Indonesia, tidak terlepas akan campur tangan globalisasi. Informasi mengenai hiburan, model fashion, hobi dan gadget dengan cepat beredar seiring perkembangan jaman. Akibatnya gaya hidup menjadi prioritas, hal ini dikarenakan dengan adanya gaya hidup manusia dapat merepresentasi dirinya dan menunjukan status sosial dimana mereka berada. Hingga tanpa disadari kebutuhan dalam pemenuhan gaya hidup menjadikan sikap sebagian masyarakat menjadi konsumtif.
            Melihat akan pentingnya pemenuhan kebutuhan dan gaya hidup bagi masyarakat, tidak terlepas pula dari peran dan fungsi pasar. Tempat inilah dimana terjadinya jual beli barang dan jasa, tempat pertukaran uang. Pasar dengan segala isinya menjadi sasaran masyarakat dalam mencari barang-barang yang mereka butuhkan. Akan tetapi pengaruh akan globalisasi yang semakin kuat, pasar tidak lagi cukup menampung segala yang masyarakat butuhkan. Bukan dalam pemenuhan kebutuhan dasar, melainkan akan kebutuhan gaya hidup masyarakatnya. Dalam pasar tidak menampung brand-brand terkenal yang menjadi sasaran gaya hidup masyarakat. Pada akhirnya department store lah yang mengambil peran pasar dalam konteks pemenuhan kebutuhan akan gaya hidup masyarakat.
            Department store yang kini banyak memenuhi wiliayah Indonesia, terlebih lagi di ibu kota ini menyediakan kebutuhan manusia dengan beragam jenis. Fasilitas yang disuguhkan juga membuat pengunjung merasa nyaman dan aman di dalamnya ketika berbelanja. Mereka tidak takut akan panas terik, jalanan becek dan para copet yang mengintai seperti di pasar. Department store menyediakan banyak ragam kebutuhan yang menunjang gaya hidup masyarakat ibu kota. Hal ini mendorong masyarakat berperilaku konsumtif, masyarakat semakin tidak puas dengan yang sudah dimiliki. Mereka terpengaruh dengan iklan-iklan televisi maupun media cetak dengan gaya rambut, berpakaian, dan gadget terbaru, yang dapat mereka penuhi dengan berbelanja di departemen store.
            Perilaku konsumtif masyarakat semakin meningkat ini yang dikarenakan faktor lingkungan, dimana department store banyak berdiri di kota besar. Jaminan akan harga yang pasti dan barang yang berkualitas,  menarik masyarakat untuk berbelanja di sana. Terlebih lagi dengan sering adanya “sale” dengan potongan harga hingga 70 %. Dalam pandangan masyarakat Indonesia “sale” memberikan keuntungan dengan potongan harga barang yang jauh dari harga sebenarnya. Masyarakat berpikir dan gemar berbelanja di departement store karena memperoleh keuntungan yang lebih dibandingkan dengan di pasar tradisional biasa.
            Bukan rahasia lagi bila kata “sale” yang terpampang di spanduk-spanduk depan department store sebagai suatu bentuk promosi dalam menjual produk dan barang-barangnya. Terlebih lagi melihat masyarakat ibu kota saat ini sangat konsumtif dan mudah terprovokasi, maka promosi semacam inilah yang gencar dilakukan department store dalam menarik pembeli. Dalam tulisan inilah, penulis mencoba untuk melihat makna dibalik kata “sale” yang gencar dilakukan department store dalam menarik minat pembeli, dan semakin membntuk gaya hidup masyarakat dengan sikap konsumtifnya. Dalam penelitian mengenai fenomena sale department store ini penulis melakukan pendekatan deskriptif kualitatif di lingkaran pergaulan penulis. Dimana penulis tinggal dalam wilayah pergaulan yang dikelilingi dengan department store.

Makna Di BalikTindakan Sosial Gaya Hidup Masyarakat Ibu Kota
            Pada dasarnya globalisasi membawa telah menciptakan mosaik pilihan gaya dan gaya hidup yang heterogen, setiap individu. Dikatakan demikian, karena praktik-praktik kebudaan yang tertuang dalam suatu gaya hidup lebih merupakan satu proses pencitraan yang merupakan tempat bagi setiap orang dalam mendefinisikan identitas dirinya.[1] Pandangan masyarakat Indonesia yang menganggap gaya hidup menunjukan seseorang berada dalam status sosial tertentu menjadikan gaya hidup sebagai prioritas yang harus dipenuhi. Bahkan ada kalanya seseorang mengikuti sebuah trend mode hanya agar dibilang update dan tidak ketinggalan jaman. Tujuan akan adanya pengakuan sosial yang turut serta melatarbelakangi seseorang mengikuti sebuah gaya hidup yang konsumtif dalam meningkatkan status dan mengenalkan identitasnya dalam masyarakat.
            Mengutip pendapat Mead  yang mengatakan keseluruhan kehidupan sosial mendahului pikiran Individu secara logis maupun temporer. Seperti apa yang kita lihat nanti, Menurut Mead individu yang berpikir dan sadar-diri tidak akan mungkin ada sebelum kelompok sosial. Kelompok sosial hadir lebih dulu, dan dia mengarah pada perkembangan kondisi mental sadar-diri.[2] Gaya hidup suatu masyarakat sudah lebih dulu ada dalam kehidupan sosial. Individu mungkin akan sadar mengenai pemenuhan akan kebutuhan gaya hidup ini semakin konsumtif. Namun, tidak jarang pula karena kehidupan sosial sudah lebih dulu ada, membuat seseorang akan berpikir bahwa gaya hidup haruslah terpenuhi.
            Siregar mengatakan bahwa, gaya hidup sebagai pembeda kelompok akan muncul dalam masyarakat yang terbentuk atas dasar stratifikasi sosial. Dimana setiap kelompok dalam strata sosial tertentu akan memiliki gaya hidup yang khas. Dapat dikatakan bahwa gaya hidup inilah yang menjadi simbol prestise dalam sistem stratifikasi sosial. Untuk menangkap gaya hidup ini dapat kita lihat dari barang yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari yang biasanya bersifat modis, cara berprilaku, sampai bahasa yang digunakan tidak untuk tujuan berkomunikasi semata tetapi juga untuk simbol identitas.[3]
            Berawal dari pemikiran subjektiftas sesorang, terkonstruksi dalam identitas dirinya melalui gaya hidup. Gaya hidup sering kali dikaitkan pada status kelas sosial ekonomi. Hal ini terjadi karena pola-pola konsumsi gaya hidup seseorang melibatkan yang namanya dimensi simbolik, tidak hanya dengan kebutuhan hidup mendasar secara pemenuhan biologis. Simbolisasi dalam konsumsi masyarakat modern di ibu kota saat ini membentuk identitasnya. sehingga gaya hidup dapat mencitrakan kedudukan seseorang pada suatu kelas sosial tertentu. konstruksi identitas melalui konsumsi banyak dilakukan oleh masyarakat perkotaan, terutama masyarakat di ibu kota.
            Pemaknaan gaya hidup oleh masyarakat didapatkan tidaklah terlepas pada proses interaksi dengan masyarakat. Adanya media asosiatif, seperti arisan digunakan masyarakat untuk ajang pamer kepemilikan barang-barang brand ternama. Hai ini dilakukan guna menunjukkan prestise seseorang. Apa yang mereka tampilkan dengan penampilan dan barang-barang bawaan mereka menjadikan ini sebagai sebuah simbol dalam interaksi sosial.
            Dengan kata lain, dalam proses interaksi sosial yang dilakukan antar individu, secara simbolis orang mengkomunikasikan makna kepada orang lain yang terlibat. Orang lain menafsirkan  simbol-simbol tersebut dan mengarahkan respon tindakan berdasarkan penafsiran mereka.[4] Cara berpakaian, menggunakan perhiasan, dan gadget terbaru yang dipakai seseorang, akan ditafsirkan orang lain yang terlibat berinteraksi. Mereka akan merespon dengan anggapan  gaya hidup dan penampilan kita akan semakin terlihat tinggi jika gaya, jika kebutuhan akan prestise terpenuhi. Status sosial individu akan naik dengan mengkonsumsi barang-barang mewah dengan maksud mengartikulasikan dirinya agar dapat diperhitungkan oleh masyarakat.  
            Jadi, pilihan seperti halnya mobil, perhiasan, bacaan, makanan yang dikonsumsi, jenis olah raga yang dilakukan, genre musik, jensi film yang ditonton, berbagai merek pakaian, aksesoris, dan lain-lain, sebenarnya hanyalah simbol dari status sosial tertentu. Begitu juga dengan pola pergaulan. Bagaimana, dengan siapa dan dimana seseorang bergaul juga menjadi simbol bahwa dirinya adalah bagian dari kelompok sosial tertentu. berikut ini penulis sajikan petikan wawancara dengan Giv (23 tahun)
            “Gaya hidup ya buat apa ya? Mungkin buat nunjukin diri di depan umum. Gaya hidup itu juga kan gak cuma berkaitan sama kehidupan foya-foya,  nunjukin penampilan atau pergaulan yang hedon. Kadang gaya hidup juga bisa dikaitin sama prinsip atau ciri khas seseorang. Walaupun tiap orang emang punya alesan pemenuhan kebutuhan gaya hidup beda-beda. Tapi nggak mungkir ya, gaya hidup itu penting buat kehidupan kita. Dengan adanya gaya hidup kita bisa membangun relasi sama orang. Nggak asik juga kan kalo kita terlalu idealis nggak mau ngikutin apa yang kebanyakan  masyarakat sekarang lakuin. Bisa dianggap aneh dan yang ada dijauhin orang. ”[5]
            Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan juga gaya hidup seseorang digunakannya untuk mencari relasi. Setiap orang butuh penerimaan di lingkungannya. Apabila seseorang tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan masyarakat maka yang muncul adalah batas sosial antar individu itu dengan masyarakat itu sendiri, jarak sosial dan keengaganan berinteraksi juga menjadi dampaknya laten yang ditimbulkan jika kebutuhan gaya hidup di perkotaan ini tidak terpenuhi. Adanya keinginan seseorang diterima dalam kehidupan sosial masyarakat juga merupakan faktor pendorong yang cukup penting dalam mempengaruhi seseorang bertindak untuk memenuhi gaya hidupnya. Untuk itu setiap individu berusaha untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya, ada motif-motif tertentu yang menjadi dasar atas tindakannya, walaupun cendrung bersikap konsumtif.
Makna Simbolik dibalik Kata Sale dalam Department Store
            Pusat perbelanjaan yang sering dikenal dengan department store saat ini sudah semakin banyak berdiri di kota besar, bahkan di daerah juga sudah mulai bermunculan. Sadar atau tidak banyaknya department store saat ini dikarenakan melihat pangsa pasar yang sangat bagus di lingkungan masyarakat Indonesia. Bertolak pada dasarnya masyarakat Indonesia mudah terpengaruh dan cendrung konsumtif membuat perusahan yang menaungi department store makin melebarkan sayapnya. Mall-mall di Jakarta yang jumlahnya kian bertambah setiap tahunnya adalah bukti bahwa Jakarta, merupakan wilayah dengan cerminan masyarakat yang konsumtif akan pemenuhan gaya hidup.
            Keberadaan department store yang semakin meluas di wilayah ibu kita saat ini tidak pula terlepas dari promosi dan strategi pemasaran yang dilakukan. kata “sale” yang menjadi kunci akan keberhasilan department store memasarkan produknya. Ragam harga dan produk promo yang menjadi andalan mereka dalam kata sale yang tertera pada brosur, spanduk maupun iklan  yang disebarluaskan dalam media massa. Dengan adanya “sale” dan diskon yang besar membuat pengunjung mall meningkat tajam, terutama jika didukung dengan momen-momen hari keagamaan , seperti lebaran, natal dan tahun baru.
            Hal ini membuat department store tidak kehilangan pangsa pasar, walaupun bukan dalam  momen  hari keagamaan. Dalam perolehan laba mereka harus menggunakan cara promosi yang berbeda dan di luar dugaan penalaran masyarakat. Seperti halnya penetapan harga barang diskon 70% + 20 %, masyarakat yang dasarnya konsumtif melihat bentuk promosi seperti itu semakin tergiur untuk berbelanja. Padahal, jika diakumulasikan diskon yang mereka peroleh bukanlah sebesar 90%, melainkan hanya sebesar 56%. namun, kondisi seperti tidaklah nampak dalam pikiran masyarakat.
             Seolah menganggap harga barang itu jauh lebih murah dari harga sebnernya menjadi tujuan utama mereka membeli. Apalagi jika pihal department store tersebut, memberikan label “sale”dan diskon tertentu pada brand-brand ternama. Masyarakat ibu kota yang haus akan pemenuhan kebutuhuan gaya hidup, tidak berpikir jika apa yang mereka lihat hanyalah sebagai bentuk promosi saja dari pihak penjual. Mengutip hasil petikan wawancara penulis dengan Ayu (24 tahun):
          “Kalo liat sale di mall langsung liat dompet kalo ternyata uang jajan masih banyak ya langsung borong. Apalagi kalo barangnya bermerek yang kita   tau kaya Converse, Fladeo, Yongki Komaladi. Siapa sih yang gak pengen punya? kalo sampe liat diskon 50%  sampe 70 %, sayang aja kalo sampe   nggak beli , kan kapan lagi coba, mumpung murah. [6]
            Pernyataan tersebut seolah membuktikan, bahwa pada saat melihat “sale” pada department store mereka tidak berpikir lebih jauh makna dibalik kata sale tersebut. Padahal pihak dari department store pun tidaklah ingin merugi dengan menjual barang-barang merek dan brand kenamaan dengan harga murah tanpa mendapat laba. Maka hal-hal semacama promosi dengan kata “sale” yang menjamur di setiap department store inilah yang menjadi pusat promosi produk mereka. Kata “sale” ini pula yang membedakan proses jual beli pasar dan department store.
            Jika, dicermati lebih lanjut maka akan dapat ditemukan makna simbolik dari kata “sale” tersebut. Simbol ini muncul akibat dari kebutuhan setiap individu untuk berinteraksi dengan orang lain. Maka untuk memperkenalkan sebuah produk department store enggunakan kata “sale” yang maknanya dapat ditafsirkan sendiri-sendiri oleh tiap individu. Walaupun tujuan dari penggunaan simbol dibalik kata sale ini adalah perolehan keuntungan yang besar dan tidak kehilangan pangsa pasar. Berbagai macam strategi penjualan dengan kata sale ini di gunakan.
            Kembali melihat bentuk rangkaian promosi yang gencar digunakan department store memasarkan produknya. Tidaklah cukup dipandang sebagai sebuah fenomena sosial belaka. Masyarakat sangat terpengaruh dengan berbagai macam bentuk dari “sale”yang ditawarkan. Sikap konsumtif masyarakat, mendorong pemuasan kebutuhan gaya hidup yang semakin meningkat. Adanya bentuk promosi yang gencar ditawarkan dalam bentuk kata sale ini malah semakin membuat masyarakat ibu kota gencar berbelanja, department store makin kuat dan memperoleh keuntungan yang melimpah. Sedangkan pedagang di pasar tradisional sebagai perbelanjaan lokal semakin minim dalam pendapatannya.
            Makna simbol memberi karakteristik khusus pada tindakan sosial (yang melibatkan aktor tunggal) dan interaksi sosial (yang melibatkan dua aktor atau lebih melakukan tindakan sosial secara timbal balik). Dengan kata lain, ketika melakukan suatu tindakan orang akan mencoba memperkirakan dampaknya pada aktor lain yang terlibat.[7] Cerdas memang pihak departmen store membuat suatu progrma promosi harga yang khas tidak ditemukan di tempat perbelanjaan lain. Lalu mereka menyebarluaskan info sale ini ke masyarakat luas terutama masyrakat ibu kota. Terjadilah interaksi yang ditangkap oleh masing-masing individu bahwa promo harga barang dengan diskon besar atau beli dua gratis satu. Membawa mereka berbelanja dengan puas di department store tersebut. Jual beli oleh pembeli dan pihak penjual dan pada akhirnya disebar luaskan kemabli pada individu lain. Akhirnya jadilah serangkaian promosi dalam bentuk kata sale memperoleh keuntungan yang besar.
Penutup
            Fenomena sale yang digencarkan department store, secara tidak disadari membentuk gaya hidup masyarakat Indonesia. Nafsu akan kepuasan dalam pemenuhan gaya hidup mendorong masyarakat untuk konsumtif dalam berbelanja, entah itu pakaian, sepatu, gadget dan lain-lain. Sale dalam pandangan masyarakat ibu kota sudah dianggap sebagai suatu penjualan banting harga, potongan harga yang besar dan murah sudah tertanam dalam pikiran setiap orang.
            Tanpa disadari masyarakat, sale ini sebenarnya tidak berpengaruh pada harga barang sebelumnya. Bisa dikatakan ini hanya bentuk permainan strategi yang unik dalam perolehan keuntungan, Seperti terbodohi dengan kata sale masyarakat menganggap harga barang yang sebelumnya mahal mendapat potongan harga yang cukup besar. Makna simbolik yang tidak terlepas dari kehidupan sosial masyarakat dalam bentuk sale ini, berpengaruh pada kecendrungan tindakan satu individu dengan individu lainnya. Membentuk suatu tatanan bahwa pemenuhan kebutuhan gaya hidup masyarakat perlu dipenuhi, bukan hanya sebagai kebutuhan tersieer, bahkan berubah menjadi kebutuhan primer.
Daftar Pustaka
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2011. Teori Sosiologi Modern:Edisi        Terbaru. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Siregar, Ashadi. “Popularisasi Gaya Hidup: Sisi Remaja dalam Komunikasi           Massa”. Dalam Ekstasi Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Idi SubandyIbrahim (ed).. Bandung: Mizan. 1997
Wahyudi, Hery . SLANK DAN SLANKERS DI KOTA MAKASSAR (Sebuah Kajian           Etnografi).  Skripsi S1 Mahasiswa Jurusan Antropologi FISIP Universitas   Hasanuddin. Makasar: Universitas Hasanuddin. 2011





[1] Hery Wahyudi. SLANK DAN SLANKERS DI KOTA MAKASSAR (Sebuah Kajian Etnografi). Skripsi S1 Mahasiswa Jurusan Antropologi FISIP Universitas Hasanuddin. Makasar: Universitas Hasanuddin. 2011 hlm 16.
[2] George Ritzer dan Douglas J. Goodman. Teori Sosiologi. 2011. Bantul: Kreasi Wacana. Dialihbahsakan oleh Nurhadi. hlm 380
[3] Ashadi Siregar. “Popularisasi Gaya Hidup: Sisi Remaja dalam Komunikasi Massa”. Dalam Ekstasi Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Idi Subandy Ibrahim (ed).. Bandung: Mizan. 1997. hlm 228.
[4] George Ritzer. Op.cit. hlm 396
[5] Wawancara penulis lakukan pada 06 September 2017, pukul 16.05
[6] Wawancara dilakukan penulis pada 06 September pukul 17.10
[7] George Ritzer. Op. cit. hlm 396

Tidak ada komentar:

Posting Komentar