Aku bingung sebenarnya ini disebut perasaan apa. Bukan tidak bahagia, bukan kecewa dan bukan juga merasa kacau.
Mungkin aku hanya sedang belajar mengendalikan diri lagi, atau aku sedang belajar dan berusaha untuk kembali menyerap rasa syukur atas apa yang sudah aku terima selama ini.
Tahun lalu aku begitu semangat menyambut hari ini bahkan saat tanggal kalender baru menyentuh angka 1, ternyata aku terlalu sombong untuk mewujudkannya sesuai angan. Nyatanya tahun lalu aku dihadapi oleh sebuah perpisahan yang tepaut jauh salah seorang sahabat pergi menghadap sang pencipta. Lalu aku juga harus dihadapi oleh tamparan keras bahwa kehidupan berubah, orang lain berubah aku tidak selalu bisa menjaga setiap orang-orang tersayang dalam genggaman tangan. Tahun lalu aku menyambut hari ini dengan berat, dengan air mata, meskipun ada kesyukuran pada akhirnya karena satu langkah pencapaian bisa terlewati. Aku sadar Tuhan menegur untuk aku lebih bijak dan lebih dewasa, terlebih di saat umur bertambah sisa hidup di dunia juga berkurang. Aku berusaha untuk menyerap itu baik-baik dalam hati dan memoriku.
Tahun ini aku tidak seantusias sebelumnya, menjalani kehidupan sehari-hari dengan biasa sampai ternyata waktu bergulir dan hari berganti tiba di hari ini.
Saat pergantian jam menuju hari ke 21 bulan desember tiba-tiba perasaan tidak enak itu datang. Lagi-lagi aku merasakannya, mata memejam tapi dada berdegup kencang. Jujur aku takut bahkan sampai matahari muncul perasaan takut itu masih ada. Lalu kualihkan rasa takutku mengerjakan pekerjaan lain, tapi rasa itu belum hilang. Mungkin aku hanya takut kesedihan tahun lalu belum hilang dan terjadi lagi. Aku mencoba untuk tetap bersyukur atas semuanya, serasa mundur setahun kebelakang seperti film yang diputar dari memori yang ku punya. Pada akhirnya Tuhan hanya ingin aku belajar banyak hal lagi soal kehidupan. Tentang tawa, tangis, jatuh, bangkit dan perasaan yang lainnya. Aku juga bersyukur masih menerima doa dari orang-orang tersayang yang sudah ikhlas hati mendoakan kebaikan, semoga semua doa dijabah dan berbalik untuk kalian yang mendoakan.
Akhir dari tulisan melankolis ini, pun aku hanya ingin bilang aku bukan tidak bahagia, hanya sedang belajar untuk mengendalikannya dan menikmati perasaan ini untuk bersyukur dalam setiap langkah kehidupan yang kumiliki.
Terima kasih untuk kalian dari dukungan yang diberi, terima kasih untuk hati yang tulus memberi dan mendoakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar