Kali ini aku ingin bercerita, tentang sebuah perjalanan indah saat aku menyapa langit.
Malam itu aku pergi dengan senyum yang merekah dan jantung yang berdegup lebih cepat. Ahh, iya aku gugup entah karena apa.
Mungkin karena terlalu bersemangat atau mungkin ada yang membuatku bersemangat.
Aku seorang imajiner bahkan dimana pun kadang sanggup terdiam lama tanpa peduli hiruk pikuk sekitar karena terus bermain dalam layar imajinasi yang ku buat.
Sama dengan perjalanan ini, aku sedang bercerita dengan diriku sendiri tentang mengagumkannya perjalanan menyapa langit ini.
Malam ini panjang, perjalanan masih jauh, kanan kiriku telah terlelap menyapa mimpi, tapi aku masih melongok keluar jendela melihat jalan yang gelap.
Lalu ke tengok ke arah lain dan lagi aku tersenyum, dalam gelap pun kutemukan keindahan dan kunikmati itu sendiri dan hanya aku yang tahu.
Entah kapan aku terlelap, karena tiba-tiba aku bangun dari tidur singkat ini ketika mobil berhenti ternyata sudah di tempat tujuan.
Hamparan rumput yang tidak terlalu luas menyambut kaki yang pegal karena lama duduk. Embun menyapa dan memberi kesejukan.
Lalu ku tengok langit, indah! Hamparan bintang bertaburan seolah-olah jaraknya dekat dengan bumi. Aku memilih menyepi sendiri tidak bergabung dalam gerombolan orang-orang yang saling tertawa dan bercanda. Suasananya begitu syahdu sayang jika tidak kunikmati dan melewatkan kesempatan menyapa bintang.
Astaga Tuhan! Allahu akbar sungguh maha besar engkau, ini indah! Rasanya tidak akan bosan melihat ke langit, jutaan bintang itu dekat sekali, bahkan ada yang menyapa dengan datangnya bintang jatuh. Aku tersenyum makin lebar dan kupejamkan mata memvisualisasi keindahan ini dalam memori jangka panjang dalam kepalaku.
Kupalingkan mata ini dari hamparan bintang itu ke sudut lain. Bukan hanya aku yang sedang menyepi dan menikmati ini sendirian. Aku tidak akan mengganggunya meski pun ingin. Biar saja kita saling menyapa langit dan membiarkan sang langit kembali menyapa dengan suguhan indah yang ditangkap retina mata.
Detik menit berlalu, gugusan bintang perlahan beranjak pergi. Meninggalkan satu bintang indah yang setia pada bumi. Batara Surya kadang aku menyebutnya, bahkan ia pun masih menyapa memberikan semburat warna orange keemasan dibalut warna biru dari langit. Sebelum persembahan pagi itu pergi aku mengabadikannya lagi dlam memori kepalaku dan tentu saja dengan bidikan kamera. Ternyata lagi-lagi aku tidak sendiri ada yang melakukan hal sama.
Perjalanan belum berakhir kali ini aku ingin menyapa langit lebih dekat, maka kudatangi tempat yang lebih tinggi. Hari masih pagi dan aku punya banyak waktu. Saat aku sampai dengan susah payah, langit menyuguhkan mendung meskipun hati tidaklah mendung. Tak apa aku hanya akan menyapa langit sekali lagi, ku pandangi langit yang mendung tapi dihiasi permadani hijau, ternyata masih tetap indah. Sekali lagi kuberikan salamku untukmu dan sekaligus menutup perjalanan indahku menyapa langit.
Seolah menjawab pertanyaan yang tak pernah ku lontarkan pada siapa pun. Langit mendung akhir dari perjalanan indah ini membantuku memberi jawaban. Aku masih tersenyum dan masih memandang langit yang sama meskipun belum lagi aku mendapat sapaan darinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar